Feeds:
Posts
Comments

politik

Catatan Merah Pemilu Caleg 2009

M Dalhar
Mahasiswa FSSR UNS
Pemilu Celeg yang belum lama kita tinggalkan, masih banyak meninggalkan berbagai permasalahan. Hal tersebut dapat kita lihat dari suguhan media setiap harinya. Mulai dari permasalahan DPT (daftar pemilih tetap), kerusakan surat suara, kekurangan logistik, politik uang dan berbagai jenis pelanggaran lainnya. Berbagai kritikan pun datang mewarnai hasil penghitungan suara yang belum seselai.
Dari berbagai kasus yang terjadi pada Pemilu Caleg kali ini, menunjukkan belum siapnya pihak penyelenggara Pemilu – Dalam hal ini adalah KPU- untuk menggelar Pemilu. Padahal waktu penyelenggaraan Pemilu sudah diputuskan jauh-jauh hari. Sepertinya Lembaga tersebut tidak mempersiapkannya dengan baik dan hanya memenuhi target saja bukan kualitas dari Pemilu. Sangat disayangkan jika Pemilu yang konon katanya pesta rakyat justru menjadi cibiran rakyat. Hal tersebut sangat wajar karena sebagian dana penyelenggaraan Pemilu adalah dana rakyat juga.
Kasus pelanggaran paling banyak Pemilu kali ini adalah kasus DPT. Sebagaian dari TPS yang ada di seluruh Indonesia terdapat kasus semacam ini. Misalkan saja jumlah pemilih yang sudah memenuhi syarat tetapi nama mereka tidak tercantum di daftar pemilih. Oleh karena itu mereka tidak bisa menggunakan hak untuk mencontreng pilihnya. Justru banyak nama yang belum memenuhi persyaratan atau bahkan sudah meninggal dunia masih terdaftar sebagai pemilih. Tidak sedikit juga nama pemilih yang ganda berada di berbagai TPS. Hal itu menunjukkan bahwa pihak penyelenggara tidak serius dalam melakukan pendataan mengenai daftar pemilih. Bisa saja data yang digunakan adalah pemilu tahun 2004.
Selain itu kasus tersebut, terdapat kasus yang tidak kalah gencarnya disoroti media yaitu banyaknya surat suara yang salah. Seharusnya surat suara untuk DPR pusat namun berisi calon DPRD misalnya. Bahkan Bawaslu (badan pengawas pemilu) sangat menyayangkan sikap KPU yang mengesahkan tertukarnya surat suara tersebut.
Setelah diketahui siapa Caleg yang memperoleh suara terbanyak, gilirannya mereka yang apes terpaksa harus mengalami depresi yang luar biasa. Karena sudah merogoh kantong saku yang tidak sedikit untu mempolpulerkan dirinya kepada masyarakat luas. Kenyataan inilah yang dihadapi para Caleg yang gagal. Uang belum tentu jaminan untuk menjadi pemenang. Bahkan ada juga Caleg yang nekat bunuh diri karena tidak mampu menanggung beban hutang yang terlalu banyak.
Tidak sedikit juga para Caleg yang gagal masuk Rumah Sakit Jiwa dan Panti untuk diberikan terapi. Untuk melampiaskan kemarahannya, ada juga sebagian Caleg yang gagal menarik semua sumbangannya semasa kampanye. Alasannya simpel yaitu sang Caleg tidak memperoleh suara yang signifikan di daerah tersebut. Rasanya lucu jika hanya karena alasan itu kemudian meminta semua yang telah diberikan semasa kampanye.
Namun tidak adil jika hanya memojokkan KPU. Justru ada pihak yang lebih penting yang patut dipertanyakan yaitu KPPS. Karena merekalah yang menyaksikan dan terlibat langsung dalam pemungutan suara mulai awal sampai akhir penghitungan suara. Walaupun KPU telah mempersiapkan semuanya dengan baik, namun jika terjadi konspirasi antara KPPS dan saksi atau pihak lain apa gunanya.
Kasus heboh terjadi di salah satu TPS yang tidak dihadiri oleh satupun saksi. Namun apa yang terjadi, KPPS tetap melanjutkan penghitungan suara dan hasilnya tetap disetorkan ke pusat. Bukan bermaksud tidak percaya, namun bagaimana mereka sebagai penanggung jawab melakukan penghitungan tanpa adanya saksi. Tentu besar kemungkinan suara akan dimanipulasi.
Belum terlambat
Di media memang KPU banyak di soroti sebagai induk dari kesalahan dari Pemilu yang penuh dengan kecurangan dan pelanggaran. Tapi itulah konsekuensi dari pihak yang bertanggung jawab atas kesuksesan Pemilu. KPU sebagai lembaga resmi yang menyelenggarakan Pemilu dapat membuktikan eksistensinya kembali dalam ajang Pilpres awal Juli medatang.
Pemilu Caleg sudah terlaksana. Walaupun terjadi kritikan dari sana sini, terutama dari kelompok oposisi pemerintah, namun inilah hasilnya. Rasanya juga tidak mungkin untuk melakukan pencontrengan ulang Pemilu Caleg. Mau menggunakan uang siapa.
Banyak yang mengatakan Pemilu kali ini adalah terburuk sepanjang sejarah. Opini tersebut kurang tepat karena pada saat orde baru berkuasa juga terdapat kasus seperti ini namun tersembunya. Namun jika sejak Era Reformasi memang benar Pemilu kali ini adalah yang paling banyak pelanggran dan kecurangan.
Apabila dikritisi berbagai pelanggaran dan kecurangan ini bukan murni kesalahan KPU saja. Misalkan rusaknya segel pengaman kotak suara yang terjadi di beberapa tempat. Sepertinya ada pihak ketiga yang sengaja melakukan hal ini untuk memanipulasi data. Untuk kedepannya Pengamanan dan jumlah saksi yang ada di TPS juga perlu ditingkatkan. Karena di tempat kecil inilah berbagai pelanggaran dan kecurangan dapat muncul sewaktu-waktu.

politik

Idealnya Begitu
Kata Pemilu berasal dari Pilu. Yang bisa diartikan dengan kesediahan atau kekecewaan. Sedangkan PEMILU berarti pembuat Pilu. Maksudnya apapun yang dihasilkan dari Pemilu pasti membuat pilu. Pemilu itu bagi yang kalah. Yang menang bukan Pemilu tapi Pemenang.
Pemilu Caleg yang baru saja digelar masih meninggalkan banyak persoalan. Yang paling unik adalah Caleg yang gagal dan masuk Rumah Sakit Jiwa. Dan itu dilakukan secara kolektif. Mereka mengalami depresi berat akibat kekalahannya dalam ajang memperebutkan kursi dewan. Sungguh memilukan…….
Ada juga Caleg yang gagal tapi tidak mengalami gangguan jiwa, melainkan langsung bunuh diri. Kira-kira Motif apa yang menjadikan mereka menjadi tidak waras dan bunuh diri. Apa cita-citanya setelah jadi Caleg nanti akan mengembalikan modal dan jika perlu mengumpulkan modal untuk maju sebagai Capres Pemilu mendatang.
Tidak perlu seperti itu. Jika ingin bangsa ini menjadi makmur, tidak perlu menjadi Caleg. Biar mereka yang sarjana Politik saja yang masuk dunia Politik. Yang penjual koran ya berjualan yang baik. Beginilah asal mula kebobrokan bangsa ini. Yang tidak bakat tetapi dibakat-bakatkan. Misalkan saja seorang yang tidak ahlui tirakat tapi ia mendeklarasikan dirinya sebagai Kiayi. Ya dia memang menjadi Kiayi tapi pada waktu tidak punya uang dan tidak ada makanan dia tidak kuat untuk puasa. Akhirnya bedug di masji di jual.
Begitulah sekilas perumpamaan di Indonesia. B J Habibie yang memang digariskan sebagai seorang yang ahli teknologi yang High tech tidak perlu masuk dunia Politik. Apalagi jadi presiden segala. Keinginanya untuk menata negara pun bisa di transformasikan melalui teknologi. Dengan berbagai temuannya yang mutakhir secara tidak langsung dapat meningkatkan martabat negara di mata dunia. Dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan hal-hal yang bermanfaat lainnya.
Begitu juga banyak masyarakat yang tidak menjalankan kemampuannya dengan baik. Justru mereka ingin maju tetapi sebenarnya dia tidak bisa. Memang mengenal diri sendiri itu dapat menjadi sebuah patokan untuk bertindak. Seandainya para kuli Becak yang maju menjadi Caleg mau melihat dirinya sebelum maju sebagai kandidat, ia akan menemukan kelemahan untuk menjadi wakil rakyat. Tapi ia akan melihat kelebihan dirinya yang bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.
Jika permasalahan kecil silahkan saja. Namun ini adalah permasalahan negara yang memang membutuhkan seorang yang benar-benar bisa. Bukan lagi asal coba-coba. Rasa kaget yang begitu besar inilah yang membuat para Caleg Depresi sehingga jiwanya tidak kuat. Akhirnya ya terjadi prilaku yang dibawah sadar.
Tentunya seorang Psikolog dan Paranormal mendapatkan angin segar. Karena mereka mempunyai pekerjaan baru.

Ilmu Sejarah

Sekilas sejarah ala Khaldun
Dilahirkan di Afrika tahun 1332, seorang sejarawan, Sosiolog dan masih banyak lagi gelar yang dibawanya. Ibnu khaldun namanya. Manusia yang hidup pada era kegelapan Islam. Seorang yang dipengaruhi pemikiran Ghazali (1058-111) dan Ibnu Rusdy (1126-1198). Dari kedua tokoh inilah yang sangat mempengaruhi pemikiran Ibnu Khaldun.
Padahal antara Ghazali dan Ibnu Rusdy terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Ghazalli adalah seorang yang menentang rasionalitas. Beliau sangat memusuhi ajaran Aristoteles. Sedangkan Ibnu Rusdy adalah pendukung Aristoteles. Ibnu Khaldun inilah yang memadukan antara keduanya ini sehingga menjadi metode yang Ilmiah.
Islam pernah jaya pada abad ke-10, namun sekarang mengalami kegelapan. Kegelapan dalam artian Islam belum bisa bangkit dari ketertinggalan negara barat. Mungkin sudah menjadi siklus sejarah, bawa suatu bangsa tidak akan jaya terus menerus. Pasti ada masa lahir, berkembang, masa kejayaan dan masa kejatuhan. Memang itu tidak bisa diingkari lagi. Manusia selalu dinamis. Permasalahannya apakah kita hanya menunggu giliran saja tanpa harus berusaha.
Pandangan Ibnu Khaldun tidak begitu. Namun masa kejayaan dapat diperoleh dengan adanya suatu pendekaatan historis. Maksudnya apa? Jika masyarakat Islam mempelajari sejarah zaman dulu, kemungkinan besar masyarakat Islam akan bangkit kembali dari kegelapan. Baik mempelajari cara mendapatkan kejayaannya dan bagaimana mempertahankan kejayaan tersebut. Kesalahan-kesalahan apa dulu yang diperbuat dapat kita evaluasi.
Karya monumental beliau adalah “Mukaddimah”. Sebuah karya yang spektakuler tentang Ilmu sosial dan sejarah yang melebihi zamannya. Artinya pada zaman itu yang sudah dikembangkan dalam dunia Islam, justru menjadi sejarah yang modern di awal abad ke-20. Dan yang memperkenalkan adalah orang Barat.
Sehingga apa yang digemborkan oleh mereka sebenarnya sudah ada beberapa abad sebelumnya. Teori Ibnu Khaldun diperkenalkan kembali oleh Lucian Febvre dan Marc Bloch dari Prancis dengan madzhab Annales School. Nama ini diambil dari sebuah buletin yang ada di Prancis.

Dalam madzhab Annales dijelaskan bagaimana sejarah itu tidak hanya permasalahan politik saja. Banyak sangkalan dari Annales tentang sejarah politik. Pertama, kehidupan tidak melulu ditentukan oleh politik, politik hanya sebagai salah satu aspek saja. Kedua, perjalanan manusia tidak hanya ditentukan oleh politik. masih banyak faktor lain yang menentukan, misalnya, iklim, kondisi geografi, lingkungan dan sebagainya. Ketiga, sejarah politik hanya sejarah para penguasa/ elite. Sejarah jenis ini merupakan model sejarah lama atau konvensional.
Sejarah model ini sudah ditinggalkan pada tahun 1960-an. Namun dengan munculnya sejarah baru (new History) ini tidak terlepas dari peran Ibnu Khaldun sebagai pelopor sejarah Modern Dalam new History digunakan ilmu bantu sebagai penelitian Ilmu Sejarah. Misalnya menggunakan ilmu bantu Sosiologi, Antropologi dan Ilmu sosial lainnya. Sehingga sejarah baru ini lebih dipahami sebagai sejarah sosial.
Di dalam sejarah baru juga diperkenalkan dengan sejaran multi dimensional. Jadi satu peristiwa sejarah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Misalnya dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan politik. tidak hanya kelompok yang terlibat dalam peristiwa sejarah saja yang ditulis, melainkan juga kelompok kecil yang secara tidak langsung terlibat juga perlu di tulis. Sehingga yang dihasilkan adalah sejah secara total/ Totalitas Sejarah
Dalam prespektif sejarah, Ibnu Khaldun menggolongkan Sejarah dalam dua golongan yaitu Luar dan Dalam. Sejarah dalam arti luar yaitu sejarah hanya sebagai cerita belaka/ naratif history. Model ini antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu sama saja dalam memahami suatu peristiwa. Kejadianyang ada hanya sebagai cerita belaka dan tidak ada hikmah dibalik peristiwa tersebut.
Sedangkan model kedua yaitu sejarah dalam arti bathinnya. Jenis kedua ini tidak hanya memahami peristiwa hanya sebagai cerita belaka, namun dibutuhkan ketajaman analisis dalam memahami suatu peristiwa. Bagaimana kaitannya antara peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya, sehingga menghasilkan suatu kebenaran. Dan inilah yang di sebut dengan filsafat sejarah.
Setelah memahami sejarah, Ibnu Khaldun juga menggolongkan kegunaan sejarah ke dalam dua bagian. Pertama, sejarah sebagai fungsi akademis yaitu kontribusi tradisi pelestarian keilmuan di bidang keilmuan Islam. Kedua, sebagai fungsi Praktis. Yaitu penlisan ulang sejarah Islam yang ilmiah dan objektif.
Perkembangan Ilmu sejarah saat ini yang lebih modern juga tidak terlepas dari peran Ibnu Khaldun sebagai bapak Sejarawan modern. Justru dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, seharusnya sejarawan bisa menuliskan sejarah yang seobjektif mungkin.

Ilmu Sejarah

Sekilas sejarah ala Khaldun
Dilahirkan di Afrika tahun 1332, seorang sejarawan, Sosiolog dan masih banyak lagi gelar yang dibawanya. Ibnu khaldun namanya. Manusia yang hidup pada era kegelapan Islam. Seorang yang dipengaruhi pemikiran Ghazali (1058-111) dan Ibnu Rusdy (1126-1198). Dari kedua tokoh inilah yang sangat mempengaruhi pemikiran Ibnu Khaldun.
Padahal antara Ghazali dan Ibnu Rusdy terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Ghazalli adalah seorang yang menentang rasionalitas. Beliau sangat memusuhi ajaran Aristoteles. Sedangkan Ibnu Rusdy adalah pendukung Aristoteles. Ibnu Khaldun inilah yang memadukan antara keduanya ini sehingga menjadi metode yang Ilmiah.
Islam pernah jaya pada abad ke-10, namun sekarang mengalami kegelapan. Kegelapan dalam artian Islam belum bisa bangkit dari ketertinggalan negara barat. Mungkin sudah menjadi siklus sejarah, bawa suatu bangsa tidak akan jaya terus menerus. Pasti ada masa lahir, berkembang, masa kejayaan dan masa kejatuhan. Memang itu tidak bisa diingkari lagi. Manusia selalu dinamis. Permasalahannya apakah kita hanya menunggu giliran saja tanpa harus berusaha.
Pandangan Ibnu Khaldun tidak begitu. Namun masa kejayaan dapat diperoleh dengan adanya suatu pendekaatan historis. Maksudnya apa? Jika masyarakat Islam mempelajari sejarah zaman dulu, kemungkinan besar masyarakat Islam akan bangkit kembali dari kegelapan. Baik mempelajari cara mendapatkan kejayaannya dan bagaimana mempertahankan kejayaan tersebut. Kesalahan-kesalahan apa dulu yang diperbuat dapat kita evaluasi.
Karya monumental beliau adalah “Mukaddimah”. Sebuah karya yang spektakuler tentang Ilmu sosial dan sejarah yang melebihi zamannya. Artinya pada zaman itu yang sudah dikembangkan dalam dunia Islam, justru menjadi sejarah yang modern di awal abad ke-20. Dan yang memperkenalkan adalah orang Barat.
Sehingga apa yang digemborkan oleh mereka sebenarnya sudah ada beberapa abad sebelumnya. Teori Ibnu Khaldun diperkenalkan kembali oleh Lucian Febvre dan Marc Bloch dari Prancis dengan madzhab Annales School. Nama ini diambil dari sebuah buletin yang ada di Prancis.

Dalam madzhab Annales dijelaskan bagaimana sejarah itu tidak hanya permasalahan politik saja. Banyak sangkalan dari Annales tentang sejarah politik. Pertama, kehidupan tidak melulu ditentukan oleh politik, politik hanya sebagai salah satu aspek saja. Kedua, perjalanan manusia tidak hanya ditentukan oleh politik. masih banyak faktor lain yang menentukan, misalnya, iklim, kondisi geografi, lingkungan dan sebagainya. Ketiga, sejarah politik hanya sejarah para penguasa/ elite. Sejarah jenis ini merupakan model sejarah lama atau konvensional.
Sejarah model ini sudah ditinggalkan pada tahun 1960-an. Namun dengan munculnya sejarah baru (new History) ini tidak terlepas dari peran Ibnu Khaldun sebagai pelopor sejarah Modern Dalam new History digunakan ilmu bantu sebagai penelitian Ilmu Sejarah. Misalnya menggunakan ilmu bantu Sosiologi, Antropologi dan Ilmu sosial lainnya. Sehingga sejarah baru ini lebih dipahami sebagai sejarah sosial.
Di dalam sejarah baru juga diperkenalkan dengan sejaran multi dimensional. Jadi satu peristiwa sejarah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Misalnya dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan politik. tidak hanya kelompok yang terlibat dalam peristiwa sejarah saja yang ditulis, melainkan juga kelompok kecil yang secara tidak langsung terlibat juga perlu di tulis. Sehingga yang dihasilkan adalah sejah secara total/ Totalitas Sejarah
Dalam prespektif sejarah, Ibnu Khaldun menggolongkan Sejarah dalam dua golongan yaitu Luar dan Dalam. Sejarah dalam arti luar yaitu sejarah hanya sebagai cerita belaka/ naratif history. Model ini antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu sama saja dalam memahami suatu peristiwa. Kejadianyang ada hanya sebagai cerita belaka dan tidak ada hikmah dibalik peristiwa tersebut.
Sedangkan model kedua yaitu sejarah dalam arti bathinnya. Jenis kedua ini tidak hanya memahami peristiwa hanya sebagai cerita belaka, namun dibutuhkan ketajaman analisis dalam memahami suatu peristiwa. Bagaimana kaitannya antara peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya, sehingga menghasilkan suatu kebenaran. Dan inilah yang di sebut dengan filsafat sejarah.
Setelah memahami sejarah, Ibnu Khaldun juga menggolongkan kegunaan sejarah ke dalam dua bagian. Pertama, sejarah sebagai fungsi akademis yaitu kontribusi tradisi pelestarian keilmuan di bidang keilmuan Islam. Kedua, sebagai fungsi Praktis. Yaitu penlisan ulang sejarah Islam yang ilmiah dan objektif.
Perkembangan Ilmu sejarah saat ini yang lebih modern juga tidak terlepas dari peran Ibnu Khaldun sebagai bapak Sejarawan modern. Justru dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, seharusnya sejarawan bisa menuliskan sejarah yang seobjektif mungkin.

Bahasa asing Untuk Mewujudkan Kota Internasional yang Berbudaya

M Dalhar
Kabit Litbang LPM Kalpadruma
FSSR UNS
Tempo dulu Solo lebih populer dengan sebutan kota Budaya. Namun dengan seiring perkembangan zaman, terutama zaman yang global seperti ini, Solo memperkenalkan dengan sebutan baru yaitu Solo the Spirit of Java.
Mungkin ini adalah istilah asing yang paling populer bagi masyarakat Bengawan. Ternyata dengan sebutan baru yang lebih modern tersebut tidak menghilangkan esensi kota budaya yang sudah dikenal sebelumnya. Justru dengan kemasan yang lebih familiar tersebut nama Solo semakin lebih dikenal. Lagipula dengan adanya pengunaan istilah asing tersebut juga membuktikan bahwa antara budaya jawa klasik dan budaya modern di Solo saling melengkapi.
Tidak hanya slogan tersebut, masih banyak ikon kota Bengawan ini yang menggunakan bahasa asing, Misalnya saja City Walk. Mungkin sebagian besar kota di Indonesia belum memiliki fasilitas ini, walaupun model seperti ini sudah ada di Singapura pada era 80-an. City Walk ini sudah mencerminkan kehidupan perkotaan. Bisa dirasakan fasilitas yang ada pada city walk yang memanjakan para pejalan kaki dan para pekerja kantoran.
Dengan city walk yang lebih condong pada kehidupan modern, bukan berarti solo sudah tidak menjadi kota yang melestarikan budaya Jawa lagi. Justru dengan inilah Solo menunjukkan budaya kota Solo, yaitu mempertahankan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik.
Istilah asing asing yang ada di Solo, termasuk city walk bisa dilihat fenomena saat ini, yaitu Solo sedang membangun jaringan dengan Luar Negri. Salah satunya adalah untuk mempromosikan kota Solo sebagai kota yang bertaraf Internasional dan berbudaya. Penggunaan bahasa asing bukan lagi permasalahan faham atau tidak maksud dari bahasa tersebut. Tetapi bisa meyakinkan bahwa kota Bengawan ini sudah siap menjadi kota yang bertaraf Internasional.
Nigh Market adalah contoh lain ikon kota Solo yang menggunakan bahasa asing. Dulunya lokasi ini adalah pasar malam yang kurang terawat. Untuk mewujudkan kota yang bertaraf Internasional dan berbudaya, oleh Pemkot Solo keadaan tersebut diubah manjadi suasana yang lebih modern dan lebih kondusif. Memang inilah konsekuensinya untuk menjadi kota Internasional yang berbudaya. Yaitu menjaga yang sudah ada dengan dengan kemasan baru tanpa harus menghilangkan ensensi yang ada sebelumnya.
Dengan penggunaan bahasa asing untuk mewujudkan kota Internasional yang berbudaya, diharapkan Solo dijadikan tujuan masyarakat diluar termasuk wisatawan asing untuk dikunjungi. Dengan demikian dari kunjungan tersebut secara tidak langsung dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Solo pada umumnya.
Keuntungan tersendiri
Dengan adanya penggunaan bahasa asing pada ikon kota Solo pada saat ini, justru masyarakat yang terkait akan diuntungkan. Mengapa bisa begitu, Misalnya saja di City Walk. Untuk mewujudkan progam pemerintah yang menjadikan Solo sebagai kota bertaraf internasional dan berbudaya, tentu pemkot sudah mempersiapkan semuanya, termasuk nasib para PKL yang ada di tempat tersebut.
Jika hanya kota bertaraf Internasional, tentu para PKL ini akan digusur secara paksa. Tanpa tanggung jawab. Karena kota Solo tidak ingin hanya bertaraf Internasional saja, tetapi juga berbudaya. Maka para PKL ini diperlakukan dengan baik. Para PKL yang dulunya menggunakan fasilitas yang seadanya, kini dengan progam pemkot tersebut, para PKL diberikan grobak yang sama. Itupun secara cuma-cuma. Jadi City Walk yang sudah didesain secara modern tidak terganggu dengan PKL yang sudah diseragamkan.
Begitu juga pada Nigh Market yang baru-baru ini ramai dibicarakan. Dulunya merupakan pasar malam yang tidak karuan. Dengan progam pemkot tersebut, pasar malam yang awalnya tidak karuan tersebut diubah menjadi lebih baik tanpa ada pihak yang dirugikan.
Dan perlu diingat jika Solo menjadi salah satu kota yang berhasil menangani masalah PKL (pedagang kaki lima) dengan baik. Atas prestasi inilah Walikota Solo Jokowi diundang ke Luar Negri karena prestasinya dalam penanganan kasus PKL. Artinya tanpa adanya kekerasan dan perusakan paksa para PKL bisa menerima. Dan inilah yang patut ditiru oleh kota-kota lain.
Semua yang dilakukan oleh pemkot Solo termasuk penggunaan bahasa asing, adalah untuk mewujudkan kota Solo sebagai kota yang bertaraf Internasional tetapi yang berbudaya.

pertanian

Ironi Kaum Petani di Negri Agrari

M Dalhar*
Selama ini masyarakat memandang petani dengan sebelah mata. Petani selalu dipandang hidup dalam kemiskinan dan tinggal dipedesaan. Masyarakat tidak melihat sisi lain dari petani yang sangat penting peranannya di Indonesia.
Bayangkan jika petani tidak mengerjakan tanahnya atau tidak panen. Tentu Negara ini akan bingung mencari makanan pengganti dan mengalami kelaparan dimana-mana. Disinilah posisi kaum petani tidak boleh diremehkan apalagi dilupakan. Sebutan Macan Asia yang diberikan kapada Indonesia juga tidak terlepas dari peranPara petani
Ironisnya, di negara agrari seperti Indonesia ini justru kesejahteraan para petani masih dipertanyakan. Lagipula di negara ini mayoritas penduduknya adalah petani. Memang aneh jika para petani yang menjadikan negara ini menjadi negara agrari dan pengekspor beras justru tidak diperhatikan.
Tidak bisa dipungkiri lagi jika para petani di Indonesia sebagian hidup dipedesaan dan dengan perekonomian menengah kebawah. Setiap hari mereka harus membawa cangkul untuk pergi ke sawah. Dan hal tersebut dilakukan hampir setiap hari. Tidak ada cuti apalagi hari libur. Dengan adanya fenomena ini justru para generasi muda semakin enggan untuk masuk dalam dunia pertanian.
Semakin minimnya jumlah mahasiswa pertanian di Indonesia ini tidak terlepas dari keadaan petani sendiri. Mereka lebih cenderung memilih jurusan Ilmu Politik dan ilmu sosial daripada pertanian. Karena mereka dapan melihat masa depan jurusan Ilmu politik maupun Ilmu sosial yang lebih menjajikan.
Mereka yang akan masuk fakultas Pertanian harus berfikir ulang. Bayangannya setelah lulus mereka harus berkerja di sawah, memelihara sapi dan tinggal di desa. Padahal mereka sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menyelesaikan studinya. Untuk apa harus mengeluarkan dana besar hanya untuk pergi ke sawah dan memelihara sapi. Paradigma inilah yang harus dibuang jauh dari pikiran masyarakat.
Untuk membuang paradigama masyarakat tersebut tidak mudah. Paling tidak pemerintah harus menyejahterakan kehidupan para petani di Indonesia. Baik dalam perekonomian sehari-hari maupun kebutuhan dalam pertanian itu sendiri. Misalnya pemberian mesin dalam petanian atau peminjaman modal kepada para petani dan sebagainya. Diharapkan dengan bantuan tersebut para petani dapat mengembangkan hasil pertaniannya untuk meningkatkan taraf kehidupannya.
Tidak hanya untuk perekonomian keluarganya saja, tetapi secara tidak langsung juga untuk meningkatkan perekonomian negara. Karena dengan jumlah panen yang besar dapat mencukupi kebutuhan negaranya sendiri, dan bahkan bisa di ekspor ke negara lain.
Dengan begitu masyarakat dapat memandang peran penting petani di Indonesia. Hal ini juga bisa menjadi salah satu motif generasi muda bangsa untuk menekuni bidang pertanian. Karena para lulusan inilah yang dinantikan kontribusi keilmuannya di bidang pertanian. Mereka dapat mengelola lahan pertanian dengan tanaman dan model baru. Lagipula para mahasiswa sudah belajar tentang teori dan praktek yang bertahun-tahun. Tentunya mereka sudah tidak asing dengan hal tersebut.
Selama ini yang masyarakat kenal hanya tanaman padi, jagung dan kacang yang dikembangkan di Indonesia. Dan cara pengolahannya pun masih sederhana. Harapannya dengan semakin banyaknya jumlah lulusan pertanian, maka dapat meningkatkan hasil pertanian yang lebih bervariatif, inovatif dan efisien. Dan menghilangkan stigma yang sudah mengakar di lingkungan masyarakat terhadap kaum petani.

Ironi Kaum Petani di Negri Agrari

M Dalhar*
Selama ini masyarakat memandang petani dengan sebelah mata. Petani selalu dipandang hidup dalam kemiskinan dan tinggal dipedesaan. Masyarakat tidak melihat sisi lain dari petani yang sangat penting peranannya di Indonesia.
Bayangkan jika petani tidak mengerjakan tanahnya atau tidak panen. Tentu Negara ini akan bingung mencari makanan pengganti dan mengalami kelaparan dimana-mana. Disinilah posisi kaum petani tidak boleh diremehkan apalagi dilupakan. Sebutan Macan Asia yang diberikan kapada Indonesia juga tidak terlepas dari peranPara petani
Ironisnya, di negara agrari seperti Indonesia ini justru kesejahteraan para petani masih dipertanyakan. Lagipula di negara ini mayoritas penduduknya adalah petani. Memang aneh jika para petani yang menjadikan negara ini menjadi negara agrari dan pengekspor beras justru tidak diperhatikan.
Tidak bisa dipungkiri lagi jika para petani di Indonesia sebagian hidup dipedesaan dan dengan perekonomian menengah kebawah. Setiap hari mereka harus membawa cangkul untuk pergi ke sawah. Dan hal tersebut dilakukan hampir setiap hari. Tidak ada cuti apalagi hari libur. Dengan adanya fenomena ini justru para generasi muda semakin enggan untuk masuk dalam dunia pertanian.
Semakin minimnya jumlah mahasiswa pertanian di Indonesia ini tidak terlepas dari keadaan petani sendiri. Mereka lebih cenderung memilih jurusan Ilmu Politik dan ilmu sosial daripada pertanian. Karena mereka dapan melihat masa depan jurusan Ilmu politik maupun Ilmu sosial yang lebih menjajikan.
Mereka yang akan masuk fakultas Pertanian harus berfikir ulang. Bayangannya setelah lulus mereka harus berkerja di sawah, memelihara sapi dan tinggal di desa. Padahal mereka sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menyelesaikan studinya. Untuk apa harus mengeluarkan dana besar hanya untuk pergi ke sawah dan memelihara sapi. Paradigma inilah yang harus dibuang jauh dari pikiran masyarakat.
Untuk membuang paradigama masyarakat tersebut tidak mudah. Paling tidak pemerintah harus menyejahterakan kehidupan para petani di Indonesia. Baik dalam perekonomian sehari-hari maupun kebutuhan dalam pertanian itu sendiri. Misalnya pemberian mesin dalam petanian atau peminjaman modal kepada para petani dan sebagainya. Diharapkan dengan bantuan tersebut para petani dapat mengembangkan hasil pertaniannya untuk meningkatkan taraf kehidupannya.
Tidak hanya untuk perekonomian keluarganya saja, tetapi secara tidak langsung juga untuk meningkatkan perekonomian negara. Karena dengan jumlah panen yang besar dapat mencukupi kebutuhan negaranya sendiri, dan bahkan bisa di ekspor ke negara lain.
Dengan begitu masyarakat dapat memandang peran penting petani di Indonesia. Hal ini juga bisa menjadi salah satu motif generasi muda bangsa untuk menekuni bidang pertanian. Karena para lulusan inilah yang dinantikan kontribusi keilmuannya di bidang pertanian. Mereka dapat mengelola lahan pertanian dengan tanaman dan model baru. Lagipula para mahasiswa sudah belajar tentang teori dan praktek yang bertahun-tahun. Tentunya mereka sudah tidak asing dengan hal tersebut.
Selama ini yang masyarakat kenal hanya tanaman padi, jagung dan kacang yang dikembangkan di Indonesia. Dan cara pengolahannya pun masih sederhana. Harapannya dengan semakin banyaknya jumlah lulusan pertanian, maka dapat meningkatkan hasil pertanian yang lebih bervariatif, inovatif dan efisien. Dan menghilangkan stigma yang sudah mengakar di lingkungan masyarakat terhadap kaum petani.

kearifan lokal

Kekuatan Dongeng

M Dalhar
Fakultas SastraUNS
Saat musim hujan tiba, tiba juga kegelisahan masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo. Pasalnya daerah yang mereka tempati selama ini terancam terkena banjir. Ketika banjir benar-benar terjadi mereka terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Tidak lupa berbagai barang berharga juga ikut diungsikan agar tidak terendam banjir, termasuk juga hewan ternak yang mereka miliki. Tetapi apakah keadaan tersebut harus terjadi setiap tahunnya dan menjadi sebuah tradisi.
Pemerintah kota (pemkot) Surakarta sudah kehabisan akal untuk menanggulangi masalah banjir tersebut. Banyak langkah yang sudah ditempuh namun tidak berhasil. Misalnya himbauan agar tidak menebang pohon dan membuang sampah di sungai. Namun tidak semua masyarakat mematuhinya. Lagipula mereka juga yang merasakan banjir ketika musim penghujan datang.
Ironisnya ketika banjir benar-benar datang mereka justru menuntut pemkot untuk menaggung semua beban mereka. Di saat himbauan dan hukum yang berlaku sudah tidak di gubris oleh masyarakat, apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mencegahnya. Apakah lebih dipertegas hukumannya, ataukah justru dibiarkan begitu saja.
Sebenarnya tanpa bantuan pemerintah pun mereka mampu untuk mencegah terjadinya banjir. Seandainya mereka menggunakan kearifan lokalnya, tentu banjir tidak akan terjadi. Permasalahannya mereka justru melanggarnya. Apakah memang karena tidak mengerti atau memang sengaja dilanggar.
Setiap daerah sudah hampir pasti mempunyai cerita, mitos maupun legenda tersendiri. Cerita-cerita tersebut merupakan sebuah warisan budaya secara turun temurun. Tetapi terkadang aneh dibalik cerita tersebut. Misalnya sebuah cerita ataupun mitos yang tidak diperbolehkan untuk menebang pohon disekitar wilayah tertentu. Seandainya hal tersebut dilakukan maka akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada daerah mereka ataupun pada diri mereka sendiri.
Namun tanpa kita sadari ternyata dibalik mitos tersebut terdapat sebuah nilai yang tinggi. Dan inilah yang biasanya disebut dengan kearifan lokal. Kearifan lokal inilah sebuah tradisi turun temurun dan dipercayai oleh masyarakat setempat.
Apabila dikaji secara ilmiah, hutan mempunyai fungsi yang sangat vital sekali. Diantaranya sebagai persediaan air, pencegah kebanjiran, pencegah erosi dan masih banyak fungsi lainnya bagi kehidupan masyarakat sekitar. Jadi benar saja jika mereka menebangnya akan terjadi hal yang tidak diinginkan yaitu banjir, tanah longsor dan sebagainya.
Biasanya kearifan lokal ini sebagai media untuk menyuruh ataupun melarang untuk melakukan sesuatu. Yang nantinya juga mendatangkan kemanfaatan kepada dirinya maupun orang lain. Dan masih banyak kearifan lokal yang berbentuk cerita, perintah maupun sebuah larangan terhadap sesuatu.
Tentunya banjir yang terjadi di sepanjang bantaran sungai Bengawan ini bukan kali ini saja. Namun sudah sejak zaman dulu sudah ada banjir. Sudah pasti daerah tersebut mempunyai kearifan lokal untuk mencegah banjir. Sekarang apakah kearifan tersebut hanya menjadi dongeng belaka atau justru sudah hilang dimakan usia.
Sulitnya merawat
Inilah kekuatan kearifan lokal. Walaupun tanpa di perintah ataupun dilarang masyarakat sudah mempunyai kesadaran. Dan apabila dibandingkan dengan hukum yang ada kearifan lokal lebih dipatuhi.
Namun seiring perkembangan zaman, lambat laun cerita-cerita ini akan luntur atau bahkan hilang. Maka perlunya suatu upanya untuk merawatnya agar tetap ada tanpa merubahnya. Misalnya dijadikan dongeng sebelum tidur ataupun dijadikan sebuah pelajaran sekolah sejak dini.
Kearifan lokal bukan termasuk sejarah. Alasannya Karena dalam babakan waktunya belum serta pelaku yang belum jelas. Namun dari segi filosofinya kearifan lokal ini sama dengan sejarah. Yaitu mempunyai arti/hikmah dibalih sebuah cerianya..
Pada zaman ini kita jarang sekali mendengar orang tua ataupun siapa saja yang mengucapkan “yen mangan dientekke mundak pitike engko mati”. Ataupun cerita yang sudah tenar sekalipun misalnya “si kancil mencuri ketimun”. Dan cerita-cerita yang lain.
Setiap daerah mempunyai kearifan lokal yang berbeda-beda. Namun kearifan sudah pas dengan keadaan daerahnya. Antara daerah pantai berbeda dengan daerah bantaran sungai, daerah daratan rendah juga berbeda dengan pegunungan.
Tidak tahu siapa yang menciptakannya. Namun ini merupakan suatu bukti bahwa bangsa Indonesia mempunyai kemampuan Local Genius. Yaitu suatu kemampuan mewujudkan kembali kebudayaan luar yang diterima dari luar dengan menggunakan pengalaman masa lampau.
Tentunya dengan menggunakan kearifan lokal hal-hal yang tidak diinginkan termasuk banjir dapat dicegah. Yang bisa mencegah dari banjir Bengawan, selain progam pemerintah adalah kearifan lokal daerah itu sendiri. Seiring perkembangan zaman ini diperlukan penggalian dan pelestarian kebudayaan masa lalu termasuk kearifan lokal agar tetap terjaga dengan baik.

awal islam di indonesia

PERKEMBANGAN AGAMA DAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA
Oleh : M. Dalhar

A. Pendahuluan
Sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara, sudah terdapat banyak suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, sosial dan budaya di Nusantara yang berkembang. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh sebelumnya, yaitu kebudayaan nenek moyang (animisme dan dinamisme), dan Hindu Budha yang berkembang lebih dulu daripada Islam.
Kondisi masyarakat daerah pesisir pada waktu itu, bisa dikatakan lebih maju daripada daerah lainnya. Terutama pesisir daerah pelabuhan. Alasannya karena daerah pesisir ini digunakan sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan. Penduduk pesisir tekena percampuran budaya (akulturasi) dengan pedagang asing yang singgah. Secara tidak langsung, dalam perdagangan yang dilakukan antara keduanya, mereka menjadi mengerti kebudayaan pedagang asing. Pedagang asing ini seperti pedagang dari Arab, Persia, China, India dan Eropa. Terutama dengan pedagang muslim, mereka (pedagang kecil) perlahan-lahan mengetahui apa itu Islam dan bagaiman ajarannya.
Berbeda dengan daerah pedalaman yang lebih tertutup (konservatif) dari budaya luar. Sehingga mereka lebih condong pada kebudayaan nenek moyang mereka dan sulit menerima kebudayaan dari luar. Awalnya Islam masuk dari pesisir kemudian menuju daerah pedalaman.
Masuknya Islam masih terdapat kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Budha yang masih eksis, diantaranya adalah kerajaan Majapahit dan kerajaan Sriwijaya. Kedua kerajaan ini merupakan kerajaan besar Hindu Budha yang akhir di Nusantara ini. Selain itu terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tersentuh oleh pengaruh Hindu dari India. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi misalnya Gowa, Wajo, Bone dan lainnya. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi tidak menunjukkan adanya pengaruh Hindu. Contohnya dalam penguburan pada masyarakat Gowa masih berdasarkan tradisi nenek moyang, yaitu dilengkapi dengan bekal kubur. Struktur birokrasi yang merupakan federasi limpo-limpo di bawah pimpinan Arungmatoa yang biasanya dipilih oleh Arung-arung, dan sistem pemerintahan sudah mengenal Demokrasi. Dari fenomena ini menunjukkan belum ada pengaruh dari Hindu.
Hindu Budha lebih dulu masuk di Nusantara daripada Islam. Permasalahannya sekarang sejak kapan Islam masuk di Nusantara? Ada beberapa teori yang menjelaskan hal tersebut. Islam masuk ke Nusantara pada Abad ke-7 Masehi. Dasar dari teori ini adalah kabar dari Dinasti Tang yang menceritakan adanya orang-orang Ta-sih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Holing (674) yang diperintah Ratu Shima (kerajaan Kalingga). Ta-shih ini hanya menunjukkan pedagang Arab dan Persia, bukan muslim India. Islam masuk pada abad ke-7 juga didukung oleh pendapat bahwa pada abad ke-7 dan 8 sudah ada pedagang Arab di kerajaan Sriwijaya.
Sebagian lagi berpendapat, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Teori ini di dukung dugaan pada tahun 1258, Dinasti Abbasiyah mengalami keruntuhan. Pendapat ini diperkuat dengan ditemukannya makam Sultan Malik As Shaleh tahun 1297 Masehi. Pada abad ini sudah terbentuknya masyarakat muslim di Nusantara, yang didirikan atas penyebaran dan ajaran tasawuf.
Ada perbedaan pendapat kapan Islam masuk ke Nusantara. Sekarang permasalahannya, bangsa mana yang membawanya. Pendapat dari C Snouck Hurgronie menebutkan bahwa yang membawa Islam adalah orang-orang muslim dari Gujarat (India). Bukti-buktihubungan langsung dengan Arab baru terjadi pada masa kemudian. Contohnya adanya utusandari Mataram dan Banten ke Makkah pada pertengahan abad ke-17 Masehi. Sedangkan yang lain menyebuttkan adalah bangsa Arab, didasarkan atas teori di atas. Maksudnya, yang lebih dulu datang adalah pedagang dari Arab. Jadi orang yang membawa Islam adalah pedagang dan Mubaligh Arab.
Memang tidak mudah menentukan sejak kapan dan siapa yang membawa Islam di Nusantara ini, karena sudah menunjukkan bukti-bukti dan alasan yang kuat. Mungkin lebih baik dikatakan bahwa Islam masuk di Nusantara pada abad ke-7 sampai abad ke-13 dan dibawa oleh pedagang muslim dari Arab dan Gujarat (India).

B. Perkembangan Islam di Nusantara
Islam masuk ke Nusantara bisa dengan mudah dan lebih mudah diterima masyarakat pada waktu itu dengan berbagai alasan. Pertama, situasi politik dan ekonomi kerajaan Hindu, Sriwijaya dan Majapahit yang mengalami kemunduran. Hal ini juga disebabkan karena perluasan China di Asia Tenggara, termasuk Nusantra. Selain itu juga konflik internal yang terjadi dalam kerajaan itu sendiri yaitu pemberontakan-pemberontakan dan sengketa yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
Akibat dari kemunduran ini banyak adipati-adipati pesisir yang meklakukan perdagangan dengan pedagang muslim. Dan akhirnya mereka menjadi penerima Agama Islam.
Situasi politik seperti itu mempengaruhi masuknya Islam ke Nusantara lebih mudah. Karena kekacauan politik, mengakibatkan kacauan pada budaya dan tradisi masyarakat. Kedua, kekacauan budaya ini digunakan oleh mubaligh-mubaligh dan pedagang muslim yang sudah mukim untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Yaitu melalui perkawinan. Akibatnya pada awal Islam di Nusantara sudah ada keturunan arab atau India. Misalnya di Surakarta terdapat perkampungan Arab, tepatnya di para Kliwon (kampung Arab).
Selain di atas, terdapat alasan yang menjadikan Islam bisa masuk ke Masyarakat Nusantara yang sudah terpengaruh Hindu, yaitu Islam tidak mengenal sistem Kasta. Inilah yang menjadikan masyarakat Hindu lebih menyukai Islam daripada Hindu. Islam mengajarkan bahwa manusia pada hakekatnya adalah sama. Walaupun manusia dalam posisi rendahan, tapi tetap pada hakekatnya manusiaadalah sama.
Berbeda dengan Hindu yang membedakan golongan berdasarkan pekerjaan atau kedudukan. Adanya kasta-kasta membuat masyarakat rendahan menjadi sengsara. Dengan adanya persamaan hak dalam Islam, maka agama ini bisa mudah diterima dan berkembang di seluruh Nusantara.

Setelah agama Islam bisa diterima, bagaimana perkembangan budaya Islam selanjutnya? Islam datang di Nusantara tidak secara bersamaan, demikian juga kedatangan Islam di kerajaan-kerajaan. Salah satu pembawa agama Islam di Nusantara adalah Islam bermadzhab Syafi’i. sulit dipastikan kapan ajaran Madzhab Syafi’i mulai masuk di Nusantara. Bagaimana terjadinya persesuaian antara Syari’at Islam dan budaya Nusantara.
Islam mengajarkan lima pokok ajarannya, yaitu, Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji. Dan juga mengenai masalah muamalah dengan sesamanya. Jadi terjadi perubahan kebudayaan masyarakat Nusantara yang pada awalnya adalah budaya nenek moyangnya (para sejarah; animisme dinamisme), budaya Hindu Budha, sampai budaya yang Islami.
Setelah masuknya Islam di Nusantara, terbukti budaya dan ajaran islam mulai berkembang. Hal ini tidak bisa terlepas darei peran Mubaligh-mubaligh dan peran Walisongo di Jawa. Bukti bahwa ajaran islam sudah dikerjakan masyarakat Nusantara. Di kota-kota besar dan kecil yang sudah islam, terdapat bangunan-banguna masjid yang digunakan untuk berjamaah.

solopos

Melakukan Yang Terbaik

M Dalhar
Litbang LPM Kalpadruma
FSSR UNS
Pada hari selasa, 17 Februari besok seharusnya masyarakat Bengawan berbahagia. Pasalnya daerah yang mereka tempati selama ini akan memperingati hari jadinya yang ke-264. Tentunya ini bukan lagi hitungan yang sedikit lagi.
Menjelang peringatan hari jadinya itu, justru sebagian masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo ada yang sibuk mencari tempat pengungsian yang aman untuk mereka tempati. Akibat luapan sungai Bengawan Solo akhir-akhir ini membuat tempat tinggal mereka kebanjiran.
Masyarakat yang mengungsi tentu tidak terlalu memikirkan dengan apa perayaan hari jadi kotanya nanti. Mengurusi diri sendiri saja masih repot apalagi mengurusi masalah lain. Apakah dengan keadaan seperti ini kita pantas merayakan ulang tahun diatas penderitaan saudara sendiri.
Hari jadi kota Solo yang kemarin, Jokowi (Walikota Solo) hanya meninggalkan pesan agar warga Solo pada umumnya dapat melestarikan budaya Jawa. Dalam upacara tersebut semua peserta termasuk Jokowi mengenakan pakaian Batik. Tidak hanya itu, dalam sambutannya tersebut walikota juga menggunakan bahasa Jawa. Yang kesemuanya itu menunjukan salah satu pelestarian budaya Jawa.
Begitu singkatnya pesan Walikota dalam upacara tersebut. Namun dalam pelaksanaannya begitu berat. Pelestarian budaya khususnya di Solo memang harus dicamkan baik-baik oleh masyarakat Solo. Karena predikat Kota Budaya yang disandang Solo sekarang bukanlah hal yang enteng. Apalagi dengan perkembangan zaman saat ini yang justru menjadi tantangan bagi masyarakat Solo.
Lunturnya budaya Jawa di Solo saat ini mulai terlihat dari sikap masyarakat saat ini. Mereka acuh dengan adanya vandalisme baik yang dilakukan di tempat umum maupun terhadap benda cagar budaya. Mereka merasa tidak memiliki semua itu. Misalnya kasus Benteng Vastenburg yang belum jelas nasibnya. Padahal benteng tersebut tempo dulu adalah benteng pertahanan dan kini justru dipertahankan.
Belum lagi mulai lunturnya juga budaya saling menyapa, ritual-ritual dan masalah bahasa. Karena dengan budayanya itulah orang Solo terkenal diluar dengan sebutan Wonge Alus.
Begitu kompleknya permasalahan yang dihadapi pada saat ini, termasuk masalah pelestarian budaya yang tak kunjung selesai sudah muncul masalah baru. Yaitu masalah banjir. Sebenarnya sudah tidak baru lagi. Karena permasalahan tersebut sudah terjadi setiap tahun. Hanya saja banjir saat ini bertepatan dengan ulang tahun kota Solo.
Namun karena sudah sangat seringnya masyarakat dengan keadaan ini, mereka menganggap biasa. Walaupun demikian tentu dalam hati mereka juga menginginkan adanya perbaikan. Sudah berapa tahun masalah banjir belum juga dapat diselesaikan. Padahal banjir sudah terjadi setiap tahunnya.
Pada saat orde baru berkuasa dibangunlah sebuah waduk Gajah Mungkur di Wonogiri untuk menangani banjir. Pembangunan tersebut hingga saat ini sangat bermanfaat untuk meminimalisir terjadinya banjir. Pada saat ini apakah sudah ada tindakan dari pemerintah Solo maupun pemerintah Pusat untuk melakukan hal yang serupa atau justru tindakan yang lebih baik.
Terlalu berat
Jika tahun lalu instruksi dari Jokowi dianggap sebagai kado ulang tahunnya kota Solo, sekarang apa yang akan diberikan kepada Solo diusianya yang semakin senja ini?
Apakah sama dengan tahun lalu, hanya instruksi saja. Memang pelestarian budaya yang dikatakan oleh Walikota tahun lalu secara tidak langsung itu merupakan sebuah kewajiban bagi masyarakat Solo. Itu memang sudah menjadi konsekuensi sebagai kota budaya. Mungkin di Indonesia hanya Solo saja. Karena Solo sendiri juga pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mataram.
Perayaan ulang tahun yang selama ini orang pahami biasanya identik dengan kebahagiaan dan pesta yang menghabiskan dana tidak sedikit. Namun apakah harus demikian? Diluar sana masih banyak masyarakat Solo yang belum bisa merayakan ulang tahun tanah kelahirannya sendiri. Mereka ditemani dengan genangan air dan sampah. Akibat dari luapan Bengawan Solo beberapa waktu lalu mereka harus kehilangan haknya. Hak untuk mendapatkan hidup layak dan hak merayakan ulang tahun
Apakah tetap ada perayaan ulang tahun dengan dana yang tidak sedikit, namun yang merasakan hanya sebagian masyarakat saja, atau sebaliknya. Dengan biaya yang tidak terlalu besar, namun semuanya dapat merasakan.
Bantuan terhadap korban banjir harus diprioritaskan. Begitu juga dengan pelestarian budaya. Namun bukan berarti suatu pilihan mana yang didulukan. Apakah dengan pelestarian budaya dulu ataukah penanganan masalah banjir. Ini bukan permasalahan telur dulu atau ayam dulu. Namun keduanya Harus dilakukan secara bersama.
Masih ada sedikit waktu untuk merenung, memikirkan dan melakukan tindakan yang terbaik untuk perayaan hari jadi Solo ke depan secara bersama-sama.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.