Catatan Merah Pemilu Caleg 2009
M Dalhar
Mahasiswa FSSR UNS
Pemilu Celeg yang belum lama kita tinggalkan, masih banyak meninggalkan berbagai permasalahan. Hal tersebut dapat kita lihat dari suguhan media setiap harinya. Mulai dari permasalahan DPT (daftar pemilih tetap), kerusakan surat suara, kekurangan logistik, politik uang dan berbagai jenis pelanggaran lainnya. Berbagai kritikan pun datang mewarnai hasil penghitungan suara yang belum seselai.
Dari berbagai kasus yang terjadi pada Pemilu Caleg kali ini, menunjukkan belum siapnya pihak penyelenggara Pemilu – Dalam hal ini adalah KPU- untuk menggelar Pemilu. Padahal waktu penyelenggaraan Pemilu sudah diputuskan jauh-jauh hari. Sepertinya Lembaga tersebut tidak mempersiapkannya dengan baik dan hanya memenuhi target saja bukan kualitas dari Pemilu. Sangat disayangkan jika Pemilu yang konon katanya pesta rakyat justru menjadi cibiran rakyat. Hal tersebut sangat wajar karena sebagian dana penyelenggaraan Pemilu adalah dana rakyat juga.
Kasus pelanggaran paling banyak Pemilu kali ini adalah kasus DPT. Sebagaian dari TPS yang ada di seluruh Indonesia terdapat kasus semacam ini. Misalkan saja jumlah pemilih yang sudah memenuhi syarat tetapi nama mereka tidak tercantum di daftar pemilih. Oleh karena itu mereka tidak bisa menggunakan hak untuk mencontreng pilihnya. Justru banyak nama yang belum memenuhi persyaratan atau bahkan sudah meninggal dunia masih terdaftar sebagai pemilih. Tidak sedikit juga nama pemilih yang ganda berada di berbagai TPS. Hal itu menunjukkan bahwa pihak penyelenggara tidak serius dalam melakukan pendataan mengenai daftar pemilih. Bisa saja data yang digunakan adalah pemilu tahun 2004.
Selain itu kasus tersebut, terdapat kasus yang tidak kalah gencarnya disoroti media yaitu banyaknya surat suara yang salah. Seharusnya surat suara untuk DPR pusat namun berisi calon DPRD misalnya. Bahkan Bawaslu (badan pengawas pemilu) sangat menyayangkan sikap KPU yang mengesahkan tertukarnya surat suara tersebut.
Setelah diketahui siapa Caleg yang memperoleh suara terbanyak, gilirannya mereka yang apes terpaksa harus mengalami depresi yang luar biasa. Karena sudah merogoh kantong saku yang tidak sedikit untu mempolpulerkan dirinya kepada masyarakat luas. Kenyataan inilah yang dihadapi para Caleg yang gagal. Uang belum tentu jaminan untuk menjadi pemenang. Bahkan ada juga Caleg yang nekat bunuh diri karena tidak mampu menanggung beban hutang yang terlalu banyak.
Tidak sedikit juga para Caleg yang gagal masuk Rumah Sakit Jiwa dan Panti untuk diberikan terapi. Untuk melampiaskan kemarahannya, ada juga sebagian Caleg yang gagal menarik semua sumbangannya semasa kampanye. Alasannya simpel yaitu sang Caleg tidak memperoleh suara yang signifikan di daerah tersebut. Rasanya lucu jika hanya karena alasan itu kemudian meminta semua yang telah diberikan semasa kampanye.
Namun tidak adil jika hanya memojokkan KPU. Justru ada pihak yang lebih penting yang patut dipertanyakan yaitu KPPS. Karena merekalah yang menyaksikan dan terlibat langsung dalam pemungutan suara mulai awal sampai akhir penghitungan suara. Walaupun KPU telah mempersiapkan semuanya dengan baik, namun jika terjadi konspirasi antara KPPS dan saksi atau pihak lain apa gunanya.
Kasus heboh terjadi di salah satu TPS yang tidak dihadiri oleh satupun saksi. Namun apa yang terjadi, KPPS tetap melanjutkan penghitungan suara dan hasilnya tetap disetorkan ke pusat. Bukan bermaksud tidak percaya, namun bagaimana mereka sebagai penanggung jawab melakukan penghitungan tanpa adanya saksi. Tentu besar kemungkinan suara akan dimanipulasi.
Belum terlambat
Di media memang KPU banyak di soroti sebagai induk dari kesalahan dari Pemilu yang penuh dengan kecurangan dan pelanggaran. Tapi itulah konsekuensi dari pihak yang bertanggung jawab atas kesuksesan Pemilu. KPU sebagai lembaga resmi yang menyelenggarakan Pemilu dapat membuktikan eksistensinya kembali dalam ajang Pilpres awal Juli medatang.
Pemilu Caleg sudah terlaksana. Walaupun terjadi kritikan dari sana sini, terutama dari kelompok oposisi pemerintah, namun inilah hasilnya. Rasanya juga tidak mungkin untuk melakukan pencontrengan ulang Pemilu Caleg. Mau menggunakan uang siapa.
Banyak yang mengatakan Pemilu kali ini adalah terburuk sepanjang sejarah. Opini tersebut kurang tepat karena pada saat orde baru berkuasa juga terdapat kasus seperti ini namun tersembunya. Namun jika sejak Era Reformasi memang benar Pemilu kali ini adalah yang paling banyak pelanggran dan kecurangan.
Apabila dikritisi berbagai pelanggaran dan kecurangan ini bukan murni kesalahan KPU saja. Misalkan rusaknya segel pengaman kotak suara yang terjadi di beberapa tempat. Sepertinya ada pihak ketiga yang sengaja melakukan hal ini untuk memanipulasi data. Untuk kedepannya Pengamanan dan jumlah saksi yang ada di TPS juga perlu ditingkatkan. Karena di tempat kecil inilah berbagai pelanggaran dan kecurangan dapat muncul sewaktu-waktu.