ALEXANDER YANG AGUNG
Raja Macedonia
A. Mengenal Alexander
Tokoh Alexander the great, penakluk yang masyhur dari dunia silam itu dilahirkan di Pella tahun 356 SM, ibukota Macedonia. Dia adalah anak dari Raja Philip II dari Macedonia. Seorang raja yang besar dan bijaksana. Dan ibu bernama putri Olympias dari semenanjung Greek. Pada waktu umur 13 Alexander sudah dididik oleh Aristoteles. Seorang filusuf Yunani yang cendikiawan dan termasyhur di dunia pada waktu itu. Alexander diajarkan untuk cinta ilmu pengetahuan, kedokteran dan filsafat. Selain itu juga memahami sajak – sajak homer. Sejak kecil juga Alexander sering menyaksikan bagaimana ayahnya memperkuat Macedonia dan memenangkan peperangan, hal itulah yang juga mendidik Alexander menjadi pemberani. Kelak dia akan menjadi pemimpin Macedonia.
Pernah suatu ketika ayahnya menyerang negara Thrace. Selama penyerangan itu, ia memberikan kekuasaan sementara kepada Alexander yang ketika itu baru berumur 16 tahun. Dalam usia sekecil itu dia sudah bisa memimpin Macedonia. Filipus memberikan kekuasaan itu karena yakin Alexander mampu memegangnya. Hal ini membuktikan bahwa sejak kecil Alexander sudah mempunyai bakat menjadi pemimpin.Raja Philip memang sengaja mengajar anaknya dengan pengalaman ketenteraan dengan bertujuan untuk menggantikan tempatnya. Beliau telah dididik sejak kecil lagi oleh bapaknya kerana beliau selalu dibawa oleh bapaknya ke medan ketenteraan.
Ayahnya terbunuh tatkala lagi mengadakan penyerangan terhadap kekaisaran Persia. Pada waktu itu usianya baru mencapai empat puluh enam tahun. Alexander yang baru berusia dua puluh tahun menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Mecodonia. Baik di Yunani maupun daerah-daerah belahan sebelah utara, penduduk yang ditaklukkan Philip memandang kematian Philip merupakan kesempatan bagus untuk menghalau dan menumbangkan kekuasaan Macedonia. Tetapi, baru dua tahun naik tahta, Alexander sudah mampu mengatasi kedua daerah itu. Ada tiga faktor yang menjadi sebab kemenangannya. Pertama, pasukan yang ditinggalkan ayahandanya, Philip, betul-betul terlatih dan terorganisir baik, lebih baik dari pasukan Yunani dan daerah belahan utara. Kedua, Alexander sendiri seorang panglima perang yang genius, mungkin paling genius di sepanjang jaman. Ketiga, keberanian Alexander sendiri.
Alexander mungkin seorang tokoh yang teramat dramatis dalam sejarah, karier dan pribadinya tetap jadi sumber kekaguman. Bukti-bukti kesuksesan kariernya cukup dramatis dan berlusin dongeng bermunculan menyangkut namanya. Dan jelas sekali sudah menjadi ambisinya menjadi pendekar dan penakluk terbesar sepanjang zaman, dan tampaknya memang layak dia peroleh julukan itu. Selaku pejuang individual, pada dirinya tercakup kemampuan dan keberanian. Sebagai seorang jenderal, dia teramat ulung, karena selama sebelas tahun pertempuran, tak pernah barang sekali pun dia kalah. Selain itu juga kemungkinan berwajah rupawan.
Ia diakui sebagai salah seorang pemimpin militer paling jenius sepanjang zaman. Ia juga menjadi inspirasi bagi penakluk-penakluk seperti Caesar Romawi dan Napoleon. Dalam masa pemerintahannya yang terbilang singkat, yaitu sekitar 14 tahun. Alexander mampu menjadikan Macedonia sebagai salah satu kekaisaran terbesar di seluruh dunia.
B. Ekspansi dan Penaklukan Alexander
Setelah masalah dalam negri Macedonia dirasa aman, sekarang gilirannya Alexander mengadakan ekspansi ke daerah – daerah lain untuk meneruskan perjuangannya ayahnya. Selama dua ribu tahun bangsa Persia mempunyai wilayah yang amat luas, membentang mulai dari Laut Tengah hingga India. Walaupun Persia tidak lagi berada dalam puncak kehebatannya, namun masih tetap merupakan lawan yang tangguh dan disegani, kekaisaran yang paling luas, paling kuat dan paling kaya di muka bumi.
Pertama kali Alexander melancarkan serangan ke Persia tahun 334 SM. Terbilang usia yang sangat muda untuk hal seperti itu, yaitu 22 tahun. Alexander hanya membawa 35 000 tentara, Karena dia harus menyisihkan sebagian pasukannya di dalam negeri untuk memelihara dan mengawasi Macedonia, hanya 35 000 tentara yang menyertainya tatkala dia melakukan petualangan berani matinya, suatu jumlah kecil tak berarti jika dibandingkan dengan kekuatan Angkatan Bersenjata Persia. Di samping sejumlah kemalangan yang menimpanya, Alexander memenangkan serentetan kemenangan dalam gempurannya terhadap pasukan Persia. pertempuran belakang garis front, keputusan Alexander adalah memimpin sendiri pasukan berkuda yang memberi pukulan menentukan. Ini merupakan cara yang penuh resiko dan dia sering terluka dalam pertempuran macam begini. Tetapi pasukannya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Alexander betul-betul tidak kepalang tanggung menghadapi bahaya dan tak mau membebankan risiko pada pundak orang lain. Hal ini membawa akibat langsung dalam hal peningkatan moral prajurit yang meyakinkan.
Pertama Alexander memimpin pasukannya menerjang Asia Kecil, menghajar habis pasukan kecil Persia yang ditempatkan di situ. Kemudian dia bergerak menuju utara Suriah, menggilas pasukan besar Persia di kota Issus. Rampung ini dia balik badan menyerbu arah selatan, dan sesudah terlibat pertempuran berat dan sulit sepanjang tujuh bulan, dia berhasil menaklukkan kota pulau Phoenicia Tyre yang kini bernama Libanon. Tatkala Alexander sedang bertempur di Tyre, dia terima pesan dari Raja Persia mengwarkan separo kerajaannya buat Alexander asal saja Alexander bersedia menyetujui perjanjian perdamaian. Salah seorang jendral Alexander, Parmenio, mengganggap tawaran bagus dan layak diterima. “Jika aku Alexander, tawaran itu kuterima.” Apa jawab Alexander? “Begitu pula aku, andaikata aku ini bernama Parmenio.”
Sesudah Tyre jatuh, Alexander meneruskan gerakannya ke selatan. Gaza jatuh sesudah bertempur selama dua bulan. Mesir menyerah tanpa pertempuran apa pun. Sesudah menduduki Mesir, Alexander menetap sebentar sekedar memberi waktu istirahat bagi prajurit-prajuritnya. Di negeri itu, kendati umurnya baru dua puluh empat tahun, dia diberi anugerah gelar Firaun dan dinobatkan sebagai dewa. Sesudah dirasa cukup istirahat, Alexander dan pasukannya bergerak lagi kembali ke daratan Asia, dan dalam pertempuran hidup-mati yang menentukan di Arbela tahun 331 SM, dia sepenuhnya sudah melumpuhkan sebagian terbesar balatentara Persia.
Sesudah kemenangan gemilang itu Alexander memboyong tentaranya ke Babylon dan menerobos masuk ke kota-kota Persia, Suso dan Persepolis. Raja Persia Darius III (bukannya pendahulunya Darius Yang Agung) dibunuh oleh opsir-opsirnya di tahun 330 SM untuk mencegahnya menyerah kepada Alexander. Walau begitu, Alexander mengalahkan dan membunuh pengganti Darius, dan dalam pertempuran selama tiga tahun, dia sudah menaklukkan semua belahan timur negeri Iran dan mendesak terus ke Asia Tengah.
Dengan segenap Kekaisaran Persia berada di bawah tclapak kakinya, Alexander selayaknya ambil keputusan kembali pulang ke negerinya dan mengorganisir daerah kekuasaannya. Tetapi, haus penaklukannya tak tertahankan lagi, karena itu dia meneruskan labrakannya ke Afganistan. Dari situ dia pimpin tentaranya melintasi pegunungan Hindu Kush menuju India. Dia peroleh serentetan kemenangan besar di bagian barat India dan bermaksud melanjutkan serangannya ke bagian timur India. Tetapi, pasukannya sudah lelah dan ngos-ngosan akibat bertempur bertahun-tahun, dan menolak meneruskan penyerbuan. Maka dengan ogah-ogahan Alexander kembali ke Persia.
Sesudah kembali ke Persia, Alexander menghabiskan waktu sekitar setahun mengorganisir tentara dan wilayah kekaisaran yang dikuasainya. Alexander dibesarkan bersama keyakinan bahwa kebudayaan Yunani adalah satu-satunya kebudayaan yang unggul dan jempol dan semua bangsa yang bukan Yunani tak lain tak bukan adalah bangsa barbar. Keyakinan itu sudah barangtentu tersebar meluas di seluruh alam pikiran dan dunia Yunani, bahkan Aristoteles sendiri berpendapat begitu. Tetapi, lepas dari keberhasilannya menumpas habis tentara Persia, Alexander sadar bangsa Persia samasekali bukan bangsa barbar, dan orang-orang Persia bisa saja sama mampu dan sama pandai dengan orang Yunani. Oleh karena itu Alexander mengandung niat untuk menggabung kedua kekaisaran itu jadi satu, dan dijelmakannya dengan pembentukan gabungan budaya dari kerajaan Graeco-Persia dengan dia sendiri tentu saja berada di atas tampuk pimpinan penguasa. Sejauh yang dapat kita pastikan, dia betul-betul berkehendak agar bangsa Persia merupakan partner sederajat dengan bangsa Yunani dan Macedonia. Dalam rangka melaksanakan rencana ini, dia memasukkan banyak sekali orang Persia ke dalam Angkatan Bersenjatanya. Dia juga mengadakan pesta apa yang disebutnya “Perkawinan Barat dan Timur” di mana ribuan tentara Macedonia secara resmi mengawini puteri-puteri Asia. Dia sendiri, walaupun sudah mempersunting istri seorang gadis bangsawan Asia sebelumnya, kawin lagi dengan puteri Darius.
Dalam waktu sekitar 10 tahun Alexander berhasil menguasai negara – negara pada saat itu. pengaruh terpenting dari penaklukan yang dilakukan Alexander adalah mendekatkan kebudayaan Yunani dengan Timur Tengah, sehingga masing-masing mendapat faedah untuk menambah dan mempertinggi kebudayaan masing-masing. Selama dan segera sesudah karier Alexander, kebudayaan Yunani dengan cepat tersebar ke Iran, Mesopotamia, Suriah, Yudea, dan Mesir. Sebelum Alexander, kebudayaan Yunani memang sudah merasuk ke daerah-daerah ini tetapi dengan lambat sekali. Juga, Alexander menyebarkan pengaruh kebudayaan Yunani ke India dan Asia Tengah, daerah yang belum terjamah sebelumnya. Dalam petualangannya Alexander mendirikan lebih dari dua puluh satu kota baru.
Selanjutnya selama 12 tahun Alexander menguasai pantai Laut Tengah Mesir, kemudian Babilonia hingga ke wilayah Pakistan dan India Utara sekarang. Selain di Mesir Alexander juga mendirikan/diabadikan di kota-kota berikut:
* Alexandria Asiana, Iran
* Alexandria in Ariana, Afghanistan
* Alexandria of the Caucasus, Afghanistan
* Alexandria on the Oxus, Afghanistan
* Alexandria of the Arachosians, Afghanistan
* Alexandria on the Indus, Pakistan
* Alexandria Eschate, “The furthest”, Tajikistan
Itu hanya kota – kota untuk mengabadikan nama Alexander, belum lagi sejumlah kota baru yang ditemukan di Asia, Afrika,Eropa oleh Alexander.
C. Kontroversi Zulqarnain
Yang dimaksud kontroversi disini apakah Alexander dari mecodonia itu adalah Dzulqarnain artinya dua tanduk ( nama Zulkarnain disebutkan dalam Al-quran surat al – Khafi ayat 83-89) atau tidak? Pendapat pertama. Ibn Ishaq menuliskan
Dalam bukunya sekalipun tidak menyebut nama Alexander, Ibn Ishaq mengkonfirmasikan bahwa Dzulkarnain adalah orang Yunani. Ibn Ishaq adalah penulis sejarah nabi Muhammad SAW paling awal. Berbeda lagi dengan pendapat kedua. Ibn Hisyam. Dia adalah orang yang mengedit dan menuliskan ulang buku biografi Muhammad SAW karangan Ibn Ishaq. Ibn Hisyam lahir di Basrah dan meninggal di Fustat Mesir sekitar tahun 218 H (sekitar tahun 828 M). Dalam catatan kritisnya no 186 terhadap karya Ibn Ishaq, Ibn Hisyam mengkonfirmasikan nama Dzul Qarnain (dua tanduk) adalah Alexander.
Ada beberapa pendapat yang melemahakan pendapat Ibn Ishaq. Ada yang mengatakan dia hidup pada zaman nabi Ibrahim Perbedaan masa antara Dzulqarnain yang hidup pada zaman Nabi Ibrahim dan Alexander yang dekat dengan zaman Nabi Isa terpaut 2000 tahun lebih. Berikut ini adalah beberapa fakta yang dapat membuktikannya:
1. Yang menunjukkan bahwa Dzulqarnain lebih dulu masanya dari Alexander adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Fahiki dari jalan ‘Ubaid bin ‘Umair bahwa Dzulqarnain menunaikan haji dengan berjalan kaki
2. Juga diriwayatkan dari jalan ‘Atha dari Ibnu Abbas bahwasanya Dzulqarnain masuk ke Masjidil Haram lalu mengucapkan salam kepada Nabi Ibrahim.
3. Juga dari Utsman bin Saj bahwasanya Dzulqarnain meminta kepada Nabi Ibrahim untuk mendoakannya. Nabi Ibrahim lalu menjawab: “Bagaimana mungkin, sedangkan kalian telah merusak sumurku?” Dzulqarnain berkata: “Itu terjadi di luar perintahku.”
Maksudnya, sebagian pasukannya melakukannya tanpa sepengetahuannya.
4. Ibnu Hisyam menyebutkan dalam At-Tijan bahwa Nabi Ibrahim berhukum kepada Dzulqarnain pada suatu perkara, maka dia pun menghukumi perkara itu.
5. Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari jalan Ali bin Ahmad bahwa Dzulqarnain datang ke Mekah serta mendapati Ibrahim dan Ismail sedang membangun Ka’bah.
Dzulqarnain adalah seorang Arab, sedangkan Alexander/ Iskandar adalah orang Yunani. Bangsa Arab seluruhnya merupakan keturunan Sam bin Nuh, adapun bangsa Yunani adalah keturunan Yafits bin Nuh menurut pendapat yang kuat. Sehingga keduanya adalah pendapat yang berbeda.
Ada juga pendapat yang melemahkan Ibn Hisyam. Karena apa yang dijelaskan di Al-Quran adalah tepat jika Alexander Digelar Dzulqarnain (Yang Memiliki Dua Tanduk) kerana berjaya menguasai kerajaan Yunan dan Parsi yang merupakan dua kuasa terbesar pada saat itu.
Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Alexander The Great adalah Iskandar Zulkarnain (nama Zulkarnain diceritakan dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 83-99), namun hal ini bukan Alexander meskipun jika kita baca memiliki plot yang mirip yaitu “tempat terbenam matahari” adalah wilayah penguasaan pertama Alexander (matahari terbenam di pantai Laut Tengah), ke arah timur (India) dan wilayah dua gunung (antara Laut Hitam dan Laut Kaspia).
Fakta sejarah tidak menunjukkan bahwa Alexander The Great adalah Zulkarnain yang disebut dalam Al-Quran (dalam Al-Quran hanya disebut Zulkarnain, tanpa Iskandar). Siapa Zulkarnain yang disebut dalam Al-Quran? Apakah seseorang di masa lalu ataukah di masa depan? Belum ada yang tahu, tapi kita bisa mengambil hikmah ceritanya dan terus mencari tafsir dan fakta apa yang telah disebutkan dalam Al-Quran.
D. masa terahir Alexander
Alexander the Great mati pada tahun 323 S.M. di Babylon tepatnya di istana Nebukadnezar ketika usianya belum lagi mencapai 33 tahun. Dalam perjalanan beliau dari Yunani, beliau telah singgah di Babilonia untuk beristirahat, namun demikian beliau telah menghidap penyakit semasa beristirahat di sana. Beliau telah diserang demam selama 11 hari dan akhirnya meninggal dunia pada 323 SM.. Tiada fakta yang jelas menyatakan kejadian penyebab kepada kematian Alexander the Great. Sebagian daripada pendapat mengatakan bahawa beliau meninggal setelah terkena penyakit malaria akibat gigitan nyamuk sewaktu berusaha menakluki India. Sementara pendapat lain pula menyatakan bahawa beliau dibunuh dengan racun yang dimasukkan dalam minuman anggurnya oleh pembantunya.
Setiap parajurit mungkin akan sanggup menahan penyakit tersebut. Tetapi Alexander terlalu meletihkan tubuh dan pikirannya dalam tahun – tahun penghabisan tersebut. Mungkin kematiannya lebih disebabkan lemahnya fisik dan luka – luka daripada demam tersebut. Dia meninggal dalam usia yang cukup muda dan kerajaan impiannya yang baru separuh selesai.
Walaupun hanya memerintah selama 14 tahun, semasa kepemimpinannya ia mampu membangun sebuah kekaisaran yang lebih besar dari setiap kekaisaran yang pernah ada. Sampai saat dia wafat, wilayah yang diperintahnya berukuran 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya. Sebuah pencapaian yang luar biasa. penaklukan dan ekspansinya, Alexander Agung juga menyebarkan kebudayaan Hellinstik yang merupakan perpaduan kebudayaan Yunani kuno, Laut tengah, Mesir dan Persia. Pengaruh Hellenisme ini bahkan sampai ke India dan Tiongkok.
Sebelum kematiannya, ia juga pernah membangun kota Alexandria atau Iskandariyah di Mesir, dengan perpustakaannya yang lengkap dibuka hingga seribu tahun lamanya dan berkembang menjadi pusat pembelajaran terhebat di dunia. Gelar The Great atau Agung di belakang namanya diberikan oleh masyarakat dunia pada masa itu karena kemasyhuran kerajaan yang beliau pimpin dan luas wilayah jajahannya walaupun usianya yang masih terbilang muda , dan beliau dipercaya sebagai Raja pertama yang pernah menguasai tiga benua Eropa, Afrika dan Asia, yang pada masa itu sudah dianggap luar biasa, karena belum ditemukannya benua Amerika dan Australia..
Alexander merupakan salah satu legenda yang telah membawa banyak tanda tanya sejarawan. Berdasarkan bukti yang sama telah memberikan gambaran yang pelbagai tentang dirinya. Ada yang menggambarkan beliau penuh dengan impian dan penuh dengan idea dan ada juga yang menggambarkan beliau sebagai seorang yang kejam. Beliau merupakan gambaran kepada Arcillec hero kepahlawanan homer’s Iliad malahan Alexander juga turut menyimpan gambarnya dan sebilah pisaunya di bawah bantal. Dia juga mendakwa dirinya keturunan Hercules dan dipuja sebagai Tuhan. Gelaran the Great ini diberikan oleh masyarakat dunia pada masa itu kerana kemahsyuran
Dakui oleh dunia bahwa Alexander pemimpin yang besar, namun keteledorannya yaitu dia tidak sempat menamakan penggantinya sebelum kematiannya, malahan setelah kematiannya telah berlaku perebutan kuasa. Dalam persaingan untuk merebut kuasa, bundanya, isteri serta anak-anaknya telah mati terbunuh. Adanya perang saudara untuk merebut kekuasan. Ketika Asia kecil dan Mecedonia menjelma menjadi pepeangan besar, banyak pemberontak yang dulunya adalah adalah musuh Alexander. Kassender adalah salah satunya, pada tahun 310 SM. Dia berhasil menawan Olympias yang tidak lain adalah ibu Alexander, Rushanak dan putra Alexander yang baru berumur belasan tahun.
Tetapi Kassender tidak berhasil membujuk membujuk prajuritnya untuk membunuh Olympias yang berusia lanjut. Prajuritnya tidak mau mengangkat senjata mereka untuk membunuh Ibu, isteri dan anak dari raja yang kebanyakan dari mereka telah dianggap sebagai dewa. Terpaksa Kassender sendiri melakukannya, yaitu dengan mengikatnya dan menenggelamkan Olympias dan kedua tawanan lainnya. Tindakan ini menghabiskan orang – orang terahir yang masih punya hubungan darah dengan Philip dan Alexander.
Sebagai akibat dari perng saudara, maka kerajaan dunia dibagi menjadi empat bagian : negara Macedonia dibawah kekuasaan Kassendar, Asia kecil dibawah wangsa Antigonus, Mesir dibawah Rajakula Ptolemeus, sedang wilayah Syiria berada dibawah kekuasaan raja Seleukus. Tidak sampai itu masalah – masalah perbatasan juga yang sering memicu konflik. Namun keseluruhannya masih tergabung dalam suatu dunia Helellenisma.
Selama masa Alexander hidup hampir semua negara-negara di Asia, Afrika tunduk kepada Alexander. Memang alexander sudah mati namun perjuangannya akan tetap menjadi sejarah dunia yang tidak terlupakan.